Minggu, 10 November 2013

SEKARANG BANTEN, KEMUDIAN KUDUS?



Saya merasa beruntung bergumul dengan Rumah Dunia bersamaan dengan mulai runtuhnya dinasti Atut di Banten. Saya menangkap ada euforia yang tersirat dari kumpulan para pegiat sastra tersebut. Letupan semangat perlawanan lewat kebudayaan yang coba mereka tunjukkan kemudian banyak melecut motivasi saya untuk berbuat hal yang sama di kampung saya, Kudus.

Rumah Dunia. Dunia yang berada dalam satu rumah dan rumah yang hendak menjadi bagian dari dunia – jika saya boleh meminjam istilah Firman Venayaksa – adalah  titisan dari sisa-sisa kejayaan Banten masa lampau. Ia adalah anomali dari kegersangan ekonomi dan budaya yang mendera Banten selama puluhan tahun belakang. Pemekaran yang dulu dianggap sebagai solusi atas setiap permasalahan Banten, nyatanya hanya menambah beban hidup rakyat. Yang miskin semakin miskin dan yang kaya bertambah kaya. Rumah Dunia menjadi semacam pelarian kaum muda yang haus akan literasi.

13 tahun tentu bukan masa yang pendek  dalam perjuangan Rumah Dunia. Namun, konsistensi pada idealisme untuk berkarya sudah menunjukkan bahwa perjuangan itu tidaklah sia-sia. Relawan dunia, istilah untuk para penggiatnya, adalah sekelompok orang yang militan terhadap komunitasnya namun tak segan merangkul orang untuk mendekat dengan penuh kekeluargaan. Orang kemudian berbondong-bondong mengintip dan masuk Rumah Dunia tanpa keraguan. Tak perlu risau akan ideologi, kemasan dan bungkus yang berbeda. Semua berjuang demi kemajuan literasi dan kecerdasan masyarakat sehingga baju dan kostum luar tak perlu lagi dipertentangkan. 


Bagaimana dengan Kudus? Saya boleh berkata Kudus jauh lebih beruntung dari Banten. Sebagai kabupaten dengan luas terkecil di Pulau Jawa – bahkan katanya di Indonesia, Kudus terbuai dengan pendapatan cukai yang terus digelontor sepanjang tahun. Banyak kegiatan kesenian dan kebudayaan yang digelar dan bisa dinikmati masyarakat. Komunitas sastra dan budaya menjamur di sudut dan lorong Kudus. Masing-masing dengan identitasnya dan idealisme yang mereka pegang teguh dan itu yang kemudian membuat masing-masing komunitas menatap curiga pada setiap ideologi yang mereka anggap berbeda. Mereka menjadi komunitas yang militan dan eksklusif yang cukup puas hanya dengan eksistensi dan keberlangsungan eksistensi itu sendiri.

Saya tak berharap Rumah Dunia akan membuka cabang di Kudus. Rumah Dunia adalah anugerah untuk Banten yang akan menyinari dunia. Perlu rumah lain yang mampu mewadahi kearifan lokal di Kudus yang nantinya bersama-sama dengan Rumah Dunia juga akan menyinari dunia. Bukan sekedar komunitas yang sibuk akan dirinya namun mampu memberi penawar atas dahaga masyarakat akan literasi. Hingga akhirnya muncul banyak dian yang memancarkan cahayanya untuk dunia.

Bandung,




11-11-2013

Episode Aku, Kau dan Nancy Ajram

Penghujungan tahun
Kutilik bermasa silam
Riuh, meski tanpa gemerlap kembang api menghias
Aku, kau, Nancy Ajram, Ummi Kultsum dan Rhoma Irama
Kidungnya bergemuruh, melalui malam

Kini,
Pungkasan hari di tahun berganti
Langit tak henti memendarkan cahaya
Pula percik-percik bunga api
Tapi hatiku sunyi
Hanya aku dan Nancy Ajram
Tanpamu, Ummi Kultsum dan Rhoma Irama

Esok,
Masih aku dan Nancy Ajram
selamanya
tanpamu

Sampai jumpa
:D

Ciater, Subang
31 Desember 2012 11.40 PM