Saya merasa beruntung bergumul
dengan Rumah Dunia bersamaan dengan mulai runtuhnya dinasti Atut di Banten. Saya
menangkap ada euforia yang tersirat dari kumpulan para pegiat sastra tersebut. Letupan
semangat perlawanan lewat kebudayaan yang coba mereka tunjukkan kemudian banyak
melecut motivasi saya untuk berbuat hal yang sama di kampung saya, Kudus.
Rumah Dunia. Dunia yang berada
dalam satu rumah dan rumah yang hendak menjadi bagian dari dunia – jika saya
boleh meminjam istilah Firman Venayaksa – adalah titisan dari sisa-sisa kejayaan Banten masa
lampau. Ia adalah anomali dari kegersangan ekonomi dan budaya yang mendera
Banten selama puluhan tahun belakang. Pemekaran yang dulu dianggap sebagai
solusi atas setiap permasalahan Banten, nyatanya hanya menambah beban hidup
rakyat. Yang miskin semakin miskin dan yang kaya bertambah kaya. Rumah Dunia
menjadi semacam pelarian kaum muda yang haus akan literasi.
13 tahun tentu bukan masa yang
pendek dalam perjuangan Rumah Dunia. Namun,
konsistensi pada idealisme untuk berkarya sudah menunjukkan bahwa perjuangan
itu tidaklah sia-sia. Relawan dunia, istilah untuk para penggiatnya, adalah
sekelompok orang yang militan terhadap komunitasnya namun tak segan merangkul
orang untuk mendekat dengan penuh kekeluargaan. Orang kemudian berbondong-bondong
mengintip dan masuk Rumah Dunia tanpa keraguan. Tak perlu risau akan ideologi,
kemasan dan bungkus yang berbeda. Semua berjuang demi kemajuan literasi dan
kecerdasan masyarakat sehingga baju dan kostum luar tak perlu lagi dipertentangkan.
Bagaimana dengan Kudus? Saya
boleh berkata Kudus jauh lebih beruntung dari Banten. Sebagai kabupaten dengan
luas terkecil di Pulau Jawa – bahkan katanya di Indonesia, Kudus terbuai dengan
pendapatan cukai yang terus digelontor sepanjang tahun. Banyak kegiatan
kesenian dan kebudayaan yang digelar dan bisa dinikmati masyarakat. Komunitas sastra
dan budaya menjamur di sudut dan lorong Kudus. Masing-masing dengan
identitasnya dan idealisme yang mereka pegang teguh dan itu yang kemudian
membuat masing-masing komunitas menatap curiga pada setiap ideologi yang mereka
anggap berbeda. Mereka menjadi komunitas yang militan dan eksklusif yang cukup
puas hanya dengan eksistensi dan keberlangsungan eksistensi itu sendiri.
Saya tak berharap Rumah Dunia
akan membuka cabang di Kudus. Rumah Dunia adalah anugerah untuk Banten yang
akan menyinari dunia. Perlu rumah lain yang mampu mewadahi kearifan lokal di
Kudus yang nantinya bersama-sama dengan Rumah Dunia juga akan menyinari dunia. Bukan
sekedar komunitas yang sibuk akan dirinya namun mampu memberi penawar atas dahaga
masyarakat akan literasi. Hingga akhirnya muncul banyak dian yang memancarkan
cahayanya untuk dunia.
Bandung,
Ah... foto mba banyak pula! Ooo...
BalasHapus