Kamis, 15 Mei 2014

TIDAK MUDAH MENJADI PEREMPUAN

November 16, 2012 at 12:53am
Kebersamaan panjang saya bersama ibu beberapa bulan terakhir sejak saya berstatus pengangguran dan ibu sebagai seorang pensiunan memberi banyak pelajaran hidup bagi saya. Hidup sebagai perempuan.
Jika seorang laki-laki mampu hidup sesuai maunya, tidak demikian dengan perempuan. Perempuan bukan hidup untuk dirinya seorang. Ia hidup untuk orangtuanya, saudara, keluarga, masyarakat dan norma-norma sosial yang melekat padanya. Perempuan itu serba salah, demikian kata ibu.
“Setiap manusia entah laki-laki maupun perempuan dilahirkan sama. Mereka punya impian yang sama untuk maju. Ibu pun sama. Gini-gini ibu sarjana lho. Tapi saat menikah, cita-cita ibu harus disesuaikan dengan tujuan keluarga. Jika ibu egois dan memaksakan maunya ibu, mungkin keluarga kita akan berantakan. Apalagi ibu menganggap cita-cita bapak membawa maslahat yang besar bagi keluarga kita, maka ibu mendukung sepenuhnya.”
Yup, saya berhak untuk berkata bahwa ibu adalah manusia tangguh. Manusia tertangguh yang saya temui mungkin. Lahir dari keluarga miskin membuat beliau harus bekerja menjadi penjahit untuk bisa meneruskan studinya. Inilah kenapa nilai ibu tak pernah bagus, kilahnya.  Sebelum lulus kuliah, beliau bertemu dengan seorang lelaki yang jauh lebih miskin, yatim piatu dan tidak punya pekerjaan tetap. Sungguh, sebuah kemiskinan yang berkelanjutan. Untaian rantai kemiskinan yang sulit terputus. Beliau terima saja takdir itu dan menikah. (Memangnya ada celah bagi kita untuk menghindar dari takdir Allah? Hehe…)
Alhamdulillah bapak saya dikaruniai otak yang cukup encer sehingga beliau diterima menjadi dosen agama di sebuah perguruan tinggi islam negeri. Tapi jangan bandingkan dengan dosen masa kini yang berkecukupan dalam materi dengan tunjangan mengajar dan sertifikasi. Keluarga kami cukup puas dengan motor vespa dan kontrakan ‘bedeng kecil’ dengan lampu byar-pet. Dosen masa lalu cukup puas dengan tambahan penghasilan dari ngajar privat ngaji atau jasa pengetikan skripsi. Hingga kemudian terbuka kesempatan bapak mendapatkan beasiswa melanjutkan studi. Bangga? Pasti. Beasiswa saat itu tak semurah sekarang selayak kacang goreng. Hanya saja, ibu harus memutar otak lebih keras lagi mengatur keluarga. Gaji bapak yang sedikit dan semakin sedikit karena tanpa tunjangan hanya cukup untuk hidup beliau dirantau. Itu artinya ibu dan keempat anaknya harus tercukupi dengan gaji ibu sebagai pekerja sosial.
Apakah cukup? Tentu tidak. Alhasil ibu harus berjualan. Apa saja. Sandal, kain bordir, baju, makanan, apa saja. Pagi, beliau mengantar anak-anaknya dan masuk kantor. Siang, menjemput anak dan mengurus rumah. Sore, mengantar ke sekolah ngaji dan berkeliling menawarkan dagangan. Seringkali malam hari beliau masih harus memberi pembinaan ke desa-desa. Melelahkan pastinya.
Ibu adalah manusia tangguh. Saya meyakini itu. Saat bapak sakit dan dinyatakan sudah terminal, ibu saya berkata bahwa dokter bukan malaikat apalagi Tuhan yang menentukan vonis kehidupan manusia. Kami mengusahakan semua pengobatan terbaik, dokter terbaik, fasilitas terbaik. Saat akhirnya rumah sakit menolak kami dan berkata bahwa semua hanya sia-sia dan menghabiskan biaya, ibu menyulap kamar tempat bapak berbaring sebagai ruang VIP lengkap dengan ranjang rumah sakit, AC, kursi roda, TV/audio dan alat-alat medis. Kami mengamati setiap detail perawatan rumah sakit dan jadilah kami perawat dengan beban kerja yang sama seperti perawat professional. Bukan hanya perawat, tapi sekaligus menjadi dokter, nutrisionist, fisioterapis dan terapis wicara. Kecepatan penanganan dan higiene-sanitasi adalah prioritas kami. Kami bahkan membagi shift untuk memastikan bapak mendapatkan pertolongan segera. Hasilnya? Secara teori bapak hanya punya kesempatan hidup 20% dan kalaupun melewati masa kritis, maka bapak akan lumpuh permanen. Hanya bisa berbaring dan tidak mampu bergerak selama hidupnya. Alhamdulillah berangsur-angsur mulai bisa bicara, belajar makan dengan mulut dan menggerakkan sebagian anggota tubuhnya. Satu kebesaran Allah yang membuat saya takjub saat awal bapak mulai sadar adalah ingatan yang tak hilang tentang ilmu yang beliau pelajari. Beliau bisa saja lupa siapa anak dan istrinya tapi tak lupa materi kuliahnya. Pernah beliau menyalahkan bacaan Quran saya. Bahkan sering beliau berceramah meski cuma saya yang paham apa yang dikatakannya. Hehe… semua ini tentu atas arahan ibu sebagai manajer.
Ibu adalah perempuan yang tangguh. Beliau tak memberi kesempatan anak-anaknya untuk menangis saat bapak meninggal. Beliau tak pernah menganggap bapak sudah tiada hingga kami pun merasa bapak hanya pergi sementara. Toh, sudah biasa bapak jarang ada di rumah. Kami bahkan masih sering membercandai bapak meski melalui fotonya. Bapak adalah imam dimana setiap ucapannya bermakna kepatuhan ibu. Saat bapak tiada, ibu ibarat orang buta yang berjalan tanpa tongkat dan hanya meraba-raba. Tapi tetap masih ada tawa di wajahnya. Jika menurutkan airmata mungkin ibu sudah kekeringan, selorohnya. Saya hanya tersenyum karena tahu tak pernah terlewat air matanya tertumpah saat sholat malam.
Sesekali ibu merasa lelah dan berkata ingin segera menyusul bapak. Kami menjawab meski dengan canda, “Enak saja ibu mau kabur. Udah bapak gak bertanggungjawab, kok ibu mau ikut-ikutan. Ibu harus tuntasin dulu tanggungjawabnya baru setelah itu mau kemana terserah.” Sedikit ekstrim sihh tapi begitulah kami dan ibu. Obrolan itu pun diakhiri dengan tawa bersama.
Tak mudah menjadi seperti ibu. Atau mungkin tak akan pernah bisa. Di usia senja selayaknya beliau beristirahat dan menikmati masa pensiun dengan tenang. Beliau masih saja berjualan seperti tiga puluh tahun lalu. Apa saja. Keripik jamur, penganan, baju, apa saja. Alasannya sederhana, ada dua anak yang masih bersekolah dan membutuhkan biaya.  Saya tertunduk karena salah satunya adalah saya.
Ibu adalah perempuan yang tangguh dan saya tidak ada seujung kuku atau bahkan kotoran yang kadang nyempil di kukunya. ini saat di penghujung Ramadhan, ibu bertemu teman lamanya di pasar. Ibu tersenyum saat si teman memaki habis-habisan atas kesalahan yang ditimpakan pada bapak dan entah apa padahal bapak saja sudah meninggal tiga tahun lamanya. Dimana saya? Ada di sebelahnya dan hanya memegang tangannya. Saya tidak punya keberanian untuk membela ibu yang sudah terang tidak ada sangkut-pautnya dengan apa yang dituduhkan. Ibu bahkan masih mempu menenangkan si teman dan meminta maaf atas nama keluarga karena esok lebaran meski saya tahu hatinya sangat-sangat terluka.
Tidak mudah menjadi perempuan. Sehebat apapun karir yang dibangun perempuan akan menjadi cibiran masyarakat saat keluarganya berantakan. Padahal saat keluarga pas-pasan, perempuan lah salah satu tiang yang mampu menyangganya. Menjadi perempuan tak pernah mudah. Demikian selalu pesan ibu. Untuk saya berhati-hati. Agar saya senantiasa berproses menjadi sebenar perempuan.

 SAJAK IBU

ahh, tidak mudah menjadi perempuan
Saat kau berkata,
Perempuan itu milik orangtua, keluarga dan masyarakatnya
Maka pandai-pandailah kau merasa

Ahh, menjadi perempuan itu tidak mudah
Saat kau lagi-lagi berkata,
Beginilah kita perempuan Jawa diajarkan
Mengambil hasil atas jerih dan perih, bukan belas kasih

Ahh, menjadi perempuan itu tidak mudah
Ketika kau kemudian berkata,
Dan aku melarung mimpiku pada ayah yang tak pandai merasa

Bagiku menjadi perempuan itu mulia
Seperti engkau yang luar biasa
Pada setiap mimpi yang kau sematkan
Pada semua kebajikan yang kau sebarkan
Atas doa dan harapan yang kau taburkan
Maka ajariku sepertimu yang pandai berlaku dan merasa
Menjadi sebenar perempuan

DIALOGUE ooo

 

June 25, 2011 at 9:06am
“Aku sangat iri padamu.”
“Apa yang hendak kau irikan dari keberadaanku?”
“Tidakkah kau merasa bahwa hidupmu sangat sempurna? Kau bersekolah saat kau harusnya bersekolah. Kau lulus ketika memang sudah waktunya. Sampai akhirnya kini kau sudah bekerja.”
Gadis manis di hadapanku hanya tersenyum, “Kau ini sungguh lucu. Apa menariknya hidupku? Aku hanya gadis biasa dari keluarga sederhana yang kemudian bekerja untuk menghidupi orangtua dan adik-adikku. Rasanya tidak ada satu bagian pun dari hidupku yang pantas untuk diirikan orang lain. Kau tahu aku berjuang sangat keras untuk kehidupan yang kujalani saat ini. Jika boleh iri, aku justru sangat iri padamu. Hidupmu dinamis. Ada kalanya kau menangis kecewa, namun esok tertawa bahagia. Semua fragmen jadi terasa menarik dan sarat pengalaman. Justru kehidupanmu-lah yang pantas diangkat menjadi sebuah novel.”
“Ya, dalam hal itu kau memang benar. Novelnya bukan tidak mungkin lebih tebal dari seri Harry Potter yang dikumpulkan jadi satu. Jika hidup ini sebuah jalan, garis nasibku seperti jalanan di pegunungan. Sesekali meninggi dan tidak jarang berupa turunan tajam. Ia bisa mengangkatku setinggi awan dan kemudian menghempaskanku ke dasar lautan, hingga membuat napasku tersengal-sengal.”
Gadis itu lagi-lagi tersenyum, “LIhatlah dirimu kini sudah sepuitis Gibran. Sejak dulu aku selalu mengagumi tulisanmu. Kau punya bakat besar di dalamnya, hanya kau tidak benar-benar mempercayainya. Apalagi yang kau tunggu? Jadilah seorang penulis, aku yakin akan ada banyak orang yang tercerahkan dengan karyamu.”
Aku tertawa, getir. “Aku? Siapa yang peduli? Aku hanya produk ‘unbranded’ yang akan tergerus oleh lulusan sekolah-sekolah top. Hanya pantas berada di kubangan kemiskinan. Tak punya celah meski untuk bersaing sedikit pun. Kau seperti tak mengenal bangsamu saja. Semua butuh koneksi. Apa karena sekarang kau bergaul dengan banyak bule yang terbiasa hidup dengan idealisme tinggi di negaranya, hingga kau melupakan ‘budaya’ di negerimu sendiri?”
Senyumnya berubah menjadi tawa panjang, “Kau sungguh aneh… 5 tahun lalu ada seseorang yang mengajariku sebuah pepatah Arab. Aku bahkan masih ingat bunyinya : Undzur maa qola wala tandzur man qola Lihatlah apa (isi) yang dikatakan orang dan jangan lihat siapa yang mengatakannya. Mutiara tetaplah mutiara meski terbenam dalam pasir hitam. Ilmu tetaplah ilmu meski siapapun yang mengatakannya. Orang itu bukankah kau ?”
Aku mencoba mengingat-ingat peristiwa lima tahun silam………
“Hahaha…ya aku ingat. Saat itu kau merasa marah karena esai yang kautulis dengan penuh perjuangan harus kalah dari si anak Bupati. Satu juri menganggap esainya pasti lebih baik karena dibuat oleh para aparat yang sudah bergelar sarjana. Sementara kau, hanya anak SMA ingusan. Padahal aku tahu, kau melakukan riset dan studi pustaka selama lebih dari sebulan. Dan meski 3 juri lain menganggap kau yang layak juara, namun akhirnya kau kalah juga. Hahaha….” Gantian aku yang tertawa mengingati fragmen yang hampir terlupa dalam memoriku.
“Ya…dan kau sangat tahu apa yang kulakukan setelah itu? Tak peduli esaiku menang atau tidak. Tak peduli apa hasil yang kuperoleh, aku hanya ingin belajar. Aku melakukannya karena aku begitu mencintai belajar. Sekarang aku memetik hasilnya meski baru sebatas materi. Tapi setidaknya orang mulai menghargai pendapatku. Aku sama sepertimu. Hanya produk sampah. Tapi bahkan sampah sekalipun bisa didaur ulang menjadi barang yang jauh lebih bermanfaat dibanding fungsinya semula. Lalu mengapa kita tidak? Maka sekarang menulislah…karena kepekaan bukan diasah di atas enaknya bangku pendidikan atau mahalnya plang sekolah. Bukan berasal dari seberapa banyak fasilitas yang dimiliki. Ia justru dapat kita temui di jalanan, perkampungan kumuh, kali-kali kotor. Coba saja kau lihat Andrea Hirata, Joni Ariadinata, Tetsuko Kuroyanagi atau mungkin JK Rowling. Apakah mereka orang-orang yang dikondisikan untuk menjadi penulis? Mereka bisa karena mereka menggunakan hati dan kemauan keras. mereka punya cinta. Kau pun punya itu semua, namun terlalu angkuh dan cenderung menyembunyikannya.”
“Entahlah, aku akan mencobanya.”
Seorang pelanggan memasuki toko. Aku bergegas meninggalkan cermin besar di hadapanku.