June 25, 2011 at 9:06am
“Apa yang hendak kau irikan dari keberadaanku?”
“Tidakkah kau merasa bahwa hidupmu sangat sempurna? Kau bersekolah saat kau harusnya bersekolah. Kau lulus ketika memang sudah waktunya. Sampai akhirnya kini kau sudah bekerja.”
Gadis manis di hadapanku hanya tersenyum, “Kau ini sungguh lucu. Apa menariknya hidupku? Aku hanya gadis biasa dari keluarga sederhana yang kemudian bekerja untuk menghidupi orangtua dan adik-adikku. Rasanya tidak ada satu bagian pun dari hidupku yang pantas untuk diirikan orang lain. Kau tahu aku berjuang sangat keras untuk kehidupan yang kujalani saat ini. Jika boleh iri, aku justru sangat iri padamu. Hidupmu dinamis. Ada kalanya kau menangis kecewa, namun esok tertawa bahagia. Semua fragmen jadi terasa menarik dan sarat pengalaman. Justru kehidupanmu-lah yang pantas diangkat menjadi sebuah novel.”
“Ya, dalam hal itu kau memang benar. Novelnya bukan tidak mungkin lebih tebal dari seri Harry Potter yang dikumpulkan jadi satu. Jika hidup ini sebuah jalan, garis nasibku seperti jalanan di pegunungan. Sesekali meninggi dan tidak jarang berupa turunan tajam. Ia bisa mengangkatku setinggi awan dan kemudian menghempaskanku ke dasar lautan, hingga membuat napasku tersengal-sengal.”
Gadis itu lagi-lagi tersenyum, “LIhatlah dirimu kini sudah sepuitis Gibran. Sejak dulu aku selalu mengagumi tulisanmu. Kau punya bakat besar di dalamnya, hanya kau tidak benar-benar mempercayainya. Apalagi yang kau tunggu? Jadilah seorang penulis, aku yakin akan ada banyak orang yang tercerahkan dengan karyamu.”
Aku tertawa, getir. “Aku? Siapa yang peduli? Aku hanya produk ‘unbranded’ yang akan tergerus oleh lulusan sekolah-sekolah top. Hanya pantas berada di kubangan kemiskinan. Tak punya celah meski untuk bersaing sedikit pun. Kau seperti tak mengenal bangsamu saja. Semua butuh koneksi. Apa karena sekarang kau bergaul dengan banyak bule yang terbiasa hidup dengan idealisme tinggi di negaranya, hingga kau melupakan ‘budaya’ di negerimu sendiri?”
Senyumnya berubah menjadi tawa panjang, “Kau sungguh aneh… 5 tahun lalu ada seseorang yang mengajariku sebuah pepatah Arab. Aku bahkan masih ingat bunyinya : Undzur maa qola wala tandzur man qola Lihatlah apa (isi) yang dikatakan orang dan jangan lihat siapa yang mengatakannya. Mutiara tetaplah mutiara meski terbenam dalam pasir hitam. Ilmu tetaplah ilmu meski siapapun yang mengatakannya. Orang itu bukankah kau ?”
Aku mencoba mengingat-ingat peristiwa lima tahun silam………
“Hahaha…ya aku ingat. Saat itu kau merasa marah karena esai yang kautulis dengan penuh perjuangan harus kalah dari si anak Bupati. Satu juri menganggap esainya pasti lebih baik karena dibuat oleh para aparat yang sudah bergelar sarjana. Sementara kau, hanya anak SMA ingusan. Padahal aku tahu, kau melakukan riset dan studi pustaka selama lebih dari sebulan. Dan meski 3 juri lain menganggap kau yang layak juara, namun akhirnya kau kalah juga. Hahaha….” Gantian aku yang tertawa mengingati fragmen yang hampir terlupa dalam memoriku.
“Ya…dan kau sangat tahu apa yang kulakukan setelah itu? Tak peduli esaiku menang atau tidak. Tak peduli apa hasil yang kuperoleh, aku hanya ingin belajar. Aku melakukannya karena aku begitu mencintai belajar. Sekarang aku memetik hasilnya meski baru sebatas materi. Tapi setidaknya orang mulai menghargai pendapatku. Aku sama sepertimu. Hanya produk sampah. Tapi bahkan sampah sekalipun bisa didaur ulang menjadi barang yang jauh lebih bermanfaat dibanding fungsinya semula. Lalu mengapa kita tidak? Maka sekarang menulislah…karena kepekaan bukan diasah di atas enaknya bangku pendidikan atau mahalnya plang sekolah. Bukan berasal dari seberapa banyak fasilitas yang dimiliki. Ia justru dapat kita temui di jalanan, perkampungan kumuh, kali-kali kotor. Coba saja kau lihat Andrea Hirata, Joni Ariadinata, Tetsuko Kuroyanagi atau mungkin JK Rowling. Apakah mereka orang-orang yang dikondisikan untuk menjadi penulis? Mereka bisa karena mereka menggunakan hati dan kemauan keras. mereka punya cinta. Kau pun punya itu semua, namun terlalu angkuh dan cenderung menyembunyikannya.”
Seorang pelanggan memasuki toko. Aku bergegas meninggalkan cermin besar di hadapanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar