Minggu, 22 Desember 2013

Janjiku : Ibu, Akan Kuganti dengan Sepanjang Hidupku


Image Kamis, 3 Desember 2009. Aku merasa hari ini adalah hari terberat dalam hidupku. Babeh harus takluk pada penyakit yang diderita selama dua tahun terakhir dan menghadap Sang Khalik. Seorang ayah terbaik yang selalu menanamkan nilai agama dan semangat belajar tak lagi dapat kujumpai jasadnya. Separuh jiwaku seakan ikut terkubur dalam gundukan tanah basah. Aku berduka.

Malam harinya aku tidur bersama ibu sebagaimana malam-malam sebelumnya, tentu tanpa kehadiran babeh. Namun malam ini terasa sangat sepi dan nyinyit. Bukankah malam sebelumnya babeh pun tak bersuara karena sedang koma? Dekapan ibu tak jua mampu menghalau lengang. Ibu mulai membuka percakapan, “Sekarang orangtuamu sudah pergi, kau tak ingin ikut bersamanya?”

Aku tak sepenuhnya paham maksud pertanyaan ibu, “Apa maksud ibu?”

“Bukankah selama ini orangtuamu cuma babeh? Cuma babeh yang ada dihatimu. Cuma babeh yang kau banggakan. Cuma babeh yang kau beri perhatian. Kau sanggup mengorbankan banyak hal untuknya. Berhenti kuliah meski tinggal satu tahun lagi. Jika ibu yang sakit apa kamu sanggup melakukan hal yang sama?” Kata-kata ibu datar, pelan tapi mampu meluruhkan hatiku yang tinggal separuh.

Aku terdiam. Benarkah demikian? Inikah yang dirasakan oleh ibuku selama 23 tahun usiaku? Apakah aku telah menancapkan luka berkarat di hati seorang yang menurut Nabi Muhammad, derajatnya 3 kali lebih tinggi dibandingkan ayah? Bukankah aku tak pernah membantah ucapannya? Bukankah aku selalu mengikuti seluruh perintahnya termasuk bersekolah di tempat yang tidak aku inginkan? Bukankah aku yang menemani beliau di hari-hari  beratnya?

Banyak pertanyaan yang memenuhi ruang otak dan ingatanku meresponnya dengan menghadirkan siluet-siluet kehidupanku bersama babeh dan ibu. Aku ingat bahwa aku sangat bangga dikatakan sebagai anak yang paling mirip dengan babeh. Aku selalu menulis nama babeh sebagai orang yang aku idolakan. Aku selalu memberi hadiah ulangtahun pada babeh, tapi terkadang lupa mengingat hari ulangtahun ibu. Aku sering menelpon babeh tapi jarang menelpon ibu sampai ibu yang menelponku terlebih dahulu. Ohhh... luka inikah yang kuhujam setitik demi setitik dan tersimpan rapat dalam hatinya? Aku terhenyak dengan semua kenyataan yang baru kusadari, padahal aku selalu menganggap diriku sebagai anak yang berbakti.

Aku memeluk ibu erat dan berkata, “Maaf jika aku sering menyakiti ibu. Kelak akan kubayar masa-masa yang telah lalu. Aku akan berlaku yang sama bahkan jika harus memberikan hidupku. Aku sayang ibu.” Bulir airmata mengalir dalam senyap. Alhamdulillah luka itu telah terbuka. Semoga sembuh dan kering dengan segera.

For my beloved mom, inspiring mom, empat tahun ini sedang kucoba mengangsur hutang-hutang cinta padamu.

Kudus, 22 Desember 2013

Kamis, 05 Desember 2013

BABEH : Semua tentang Mengenangmu



5 Desember 2013. Lewat dua hari dari tanggal kematianmu empat tahun lalu. Bagaimana dengan empat tahun terakhir tanpa kehadiranmu? Aku masih merindukanmu. Rindu yang akan selalu sama meski waktu berbilang. Apakah kau pun sama? Mungkin kau tak lagi tahu bagaimana rindu itu berasa.
Saat ini aku masih melanjutkan hidup bersama dengan istri dan anak-anakmu yang lain. Fotomu masih terpajang di tempat yang sama. Buku dan sebagian kecil bajumu juga masih tersimpan rapi. Kami sekeluarga juga masih sering membicarakanmu dan semua kenangan tentangmu seakan-akan kau sedang pergi keluar kota sebagaimana dulu sering kaulakukan. Tidak ada yang berubah. Hanya saja sekarang aku jadi lebih sentimentil. Aku iri pada sepasang bapak dan anak yang berlari di tengah hujan. Hatiku meluap rindu saat melihat seorang bapak berolahraga bersama putrinya sebagaimana kebiasaan kita dulu. Aku menangis terluka saat tertatih menyelesaikan studi akhirku. Hal yang tak akan sama jika kau masih ada karena kau akan selalu mensupport semua yang kubutuhkan. Uang, bahan bacaan, ijin pesantren seperti  yang dulu kausiapkan saat aku menggarap skripsiku 5 tahun lalu, yaitu 1 minggu menjelang kau tak sadarkan diri.
Babeh, love u
In memoriam : 3 Desember 2009-3 Desember 2013

Minggu, 10 November 2013

SEKARANG BANTEN, KEMUDIAN KUDUS?



Saya merasa beruntung bergumul dengan Rumah Dunia bersamaan dengan mulai runtuhnya dinasti Atut di Banten. Saya menangkap ada euforia yang tersirat dari kumpulan para pegiat sastra tersebut. Letupan semangat perlawanan lewat kebudayaan yang coba mereka tunjukkan kemudian banyak melecut motivasi saya untuk berbuat hal yang sama di kampung saya, Kudus.

Rumah Dunia. Dunia yang berada dalam satu rumah dan rumah yang hendak menjadi bagian dari dunia – jika saya boleh meminjam istilah Firman Venayaksa – adalah  titisan dari sisa-sisa kejayaan Banten masa lampau. Ia adalah anomali dari kegersangan ekonomi dan budaya yang mendera Banten selama puluhan tahun belakang. Pemekaran yang dulu dianggap sebagai solusi atas setiap permasalahan Banten, nyatanya hanya menambah beban hidup rakyat. Yang miskin semakin miskin dan yang kaya bertambah kaya. Rumah Dunia menjadi semacam pelarian kaum muda yang haus akan literasi.

13 tahun tentu bukan masa yang pendek  dalam perjuangan Rumah Dunia. Namun, konsistensi pada idealisme untuk berkarya sudah menunjukkan bahwa perjuangan itu tidaklah sia-sia. Relawan dunia, istilah untuk para penggiatnya, adalah sekelompok orang yang militan terhadap komunitasnya namun tak segan merangkul orang untuk mendekat dengan penuh kekeluargaan. Orang kemudian berbondong-bondong mengintip dan masuk Rumah Dunia tanpa keraguan. Tak perlu risau akan ideologi, kemasan dan bungkus yang berbeda. Semua berjuang demi kemajuan literasi dan kecerdasan masyarakat sehingga baju dan kostum luar tak perlu lagi dipertentangkan. 


Bagaimana dengan Kudus? Saya boleh berkata Kudus jauh lebih beruntung dari Banten. Sebagai kabupaten dengan luas terkecil di Pulau Jawa – bahkan katanya di Indonesia, Kudus terbuai dengan pendapatan cukai yang terus digelontor sepanjang tahun. Banyak kegiatan kesenian dan kebudayaan yang digelar dan bisa dinikmati masyarakat. Komunitas sastra dan budaya menjamur di sudut dan lorong Kudus. Masing-masing dengan identitasnya dan idealisme yang mereka pegang teguh dan itu yang kemudian membuat masing-masing komunitas menatap curiga pada setiap ideologi yang mereka anggap berbeda. Mereka menjadi komunitas yang militan dan eksklusif yang cukup puas hanya dengan eksistensi dan keberlangsungan eksistensi itu sendiri.

Saya tak berharap Rumah Dunia akan membuka cabang di Kudus. Rumah Dunia adalah anugerah untuk Banten yang akan menyinari dunia. Perlu rumah lain yang mampu mewadahi kearifan lokal di Kudus yang nantinya bersama-sama dengan Rumah Dunia juga akan menyinari dunia. Bukan sekedar komunitas yang sibuk akan dirinya namun mampu memberi penawar atas dahaga masyarakat akan literasi. Hingga akhirnya muncul banyak dian yang memancarkan cahayanya untuk dunia.

Bandung,




11-11-2013

Episode Aku, Kau dan Nancy Ajram

Penghujungan tahun
Kutilik bermasa silam
Riuh, meski tanpa gemerlap kembang api menghias
Aku, kau, Nancy Ajram, Ummi Kultsum dan Rhoma Irama
Kidungnya bergemuruh, melalui malam

Kini,
Pungkasan hari di tahun berganti
Langit tak henti memendarkan cahaya
Pula percik-percik bunga api
Tapi hatiku sunyi
Hanya aku dan Nancy Ajram
Tanpamu, Ummi Kultsum dan Rhoma Irama

Esok,
Masih aku dan Nancy Ajram
selamanya
tanpamu

Sampai jumpa
:D

Ciater, Subang
31 Desember 2012 11.40 PM