Kamis, 3 Desember 2009. Aku merasa
hari ini adalah hari terberat dalam hidupku. Babeh harus takluk pada penyakit
yang diderita selama dua tahun terakhir dan menghadap Sang Khalik. Seorang ayah
terbaik yang selalu menanamkan nilai agama dan semangat belajar tak lagi dapat
kujumpai jasadnya. Separuh jiwaku seakan ikut terkubur dalam gundukan tanah
basah. Aku berduka.
Malam harinya aku tidur bersama
ibu sebagaimana malam-malam sebelumnya, tentu tanpa kehadiran babeh. Namun malam
ini terasa sangat sepi dan nyinyit. Bukankah
malam sebelumnya babeh pun tak bersuara karena sedang koma? Dekapan ibu tak jua
mampu menghalau lengang. Ibu mulai membuka percakapan, “Sekarang orangtuamu
sudah pergi, kau tak ingin ikut bersamanya?”
Aku tak sepenuhnya paham maksud pertanyaan ibu, “Apa maksud ibu?”
“Bukankah selama ini orangtuamu cuma babeh? Cuma babeh yang ada dihatimu. Cuma babeh yang kau banggakan. Cuma babeh yang kau beri perhatian. Kau sanggup mengorbankan banyak hal untuknya. Berhenti kuliah meski tinggal satu tahun lagi. Jika ibu yang sakit apa kamu sanggup melakukan hal yang sama?” Kata-kata ibu datar, pelan tapi mampu meluruhkan hatiku yang tinggal separuh.
Aku terdiam. Benarkah demikian? Inikah yang dirasakan oleh ibuku selama 23 tahun usiaku? Apakah aku telah menancapkan luka berkarat di hati seorang yang menurut Nabi Muhammad, derajatnya 3 kali lebih tinggi dibandingkan ayah? Bukankah aku tak pernah membantah ucapannya? Bukankah aku selalu mengikuti seluruh perintahnya termasuk bersekolah di tempat yang tidak aku inginkan? Bukankah aku yang menemani beliau di hari-hari beratnya?
Banyak pertanyaan yang memenuhi ruang otak dan ingatanku meresponnya dengan menghadirkan siluet-siluet kehidupanku bersama babeh dan ibu. Aku ingat bahwa aku sangat bangga dikatakan sebagai anak yang paling mirip dengan babeh. Aku selalu menulis nama babeh sebagai orang yang aku idolakan. Aku selalu memberi hadiah ulangtahun pada babeh, tapi terkadang lupa mengingat hari ulangtahun ibu. Aku sering menelpon babeh tapi jarang menelpon ibu sampai ibu yang menelponku terlebih dahulu. Ohhh... luka inikah yang kuhujam setitik demi setitik dan tersimpan rapat dalam hatinya? Aku terhenyak dengan semua kenyataan yang baru kusadari, padahal aku selalu menganggap diriku sebagai anak yang berbakti.
Aku memeluk ibu erat dan berkata, “Maaf jika aku sering menyakiti ibu. Kelak akan kubayar masa-masa yang telah lalu. Aku akan berlaku yang sama bahkan jika harus memberikan hidupku. Aku sayang ibu.” Bulir airmata mengalir dalam senyap. Alhamdulillah luka itu telah terbuka. Semoga sembuh dan kering dengan segera.
For my beloved mom, inspiring mom, empat tahun ini sedang kucoba
mengangsur hutang-hutang cinta padamu.
Kudus, 22 Desember 2013
mbak isti... :')
BalasHapuscerita kita beririsan... jd haru :'(
BalasHapuswooow,....
BalasHapus